RS Omni Internasional Bermasalah Lagi

Setelah kasus menggemparkan e-mail keluhan dari Prita, kini Rumah Sakit Omni Internasional kembali bermasalah. Karena diduga telah melakukan malpraktek.

Dua anak kembar Jared dan Jayden, anak dari pasangan Juliana Dharmati dan Kiki Kurniadi, warga Tanggerang.

Jared mengalami buta permanen. Jayden menderita kerusakan mata silinder 2. Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang dituding bertanggung jawab atas kerusakan mata bayi kembar berusia satu tahun itu.
Juliana Dharmati, ibunda Jared dan Jayden, mengatakan, kerusakan mata putra kembarnya terjadi diduga akibat kelambanan perawatan RS Omni saat membantu persalinannya setahun silam. Ibunda dari bayi kembar Jared Cristopel dan Jayden Cristopel, korban dugaan malpraktek RS Omni melaporkan penyidik ke Propam Polda Metro. Juliana Ong melapor karena tidak terima atas Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) kasusnya.
“Saya melaporkan penyidik Sat Renakta (Satuan Remaja Anak dan Wanita) Polda Metro Jaya karena SP3 ini sangat tidak wajar, banyak kejanggalan dan terlihat dipaksakan,” kata Juliana di Mapolda Metro Jaya, Selasa 23 Maret 2010.
Menurut dia, kejanggalan itu salah satunya dalam proses pengeluaran SP3 yang seharusnya didahului dengan dikeluarkannya SP2HP atau Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan.
“Seharusnya sebelum dikeluarkan SP3, dikeluarkan dua kali SP2HP. Ini tidak, saya baru terima SP2HP pertama tertanggal 5 November 2009,” ungkapnya.

Setelah dikeluarkannya SP2HP yang pertama, Juliana mengaku tidak pernah menerima SP2HP yang kedua. Hingga pada 16 November 2009, hingga akhirnya Juliana menerima SP3. “Saya jelas pertanyakan, atas dasar apa dikeluarkan SP3,” imbuh Juliani.
Padahal, ia melanjutkan, pada SP2HP pertama, kuasa hukumnya merespons surat itu dengan melayangkan surat ke Kapolda dan Kapolri agar kasusnya tidak di SP3. Juliana beralasan memiliki bukti baru. “Kita sudah ada bukti baru, tapi malah langsung di SP3,” kesal dia.
Atas segala keganjilan itu, Juliana menduga adanya kolusi dalam pengeluaran SP3 itu. Selain itu, penyidik juga menghadirkan 5 saksi ahli saat pemeriksaan itu, yang menurutnya tidak adil. Karena 3 dari 5 saksi ahli didatangkan dari RS Omni Internasional.
“Tiga dari 5 saksi ahli itu adalah dokter spesialis dari RS Omni, ini jelas tidak adil,” jelas Juliana.
Dari keterangan para dokter RS Omni ini juga, mereka bersepakat untuk membuat keterangan yang salah. Mereka sepakat buat keterangan yang salah.
“Usia kandungan anak saya disebut 30 minggu padalah 33 minggu lebih. Harusnya penyidik tanya bukti dulu ke dokter-dokter itu,” tanya dia.
Lebih jauh Juliana mengatakan, penyidik telah mengabaikan bukti surat yang dilampirkan dirinya. “Bukti surat medis kesalahan RS Omni dari tim dokter rumah sakit di Australia dan resume medis asli tulisan tangan dr Ferdy yang berisi catatan harian tindakan medis terhadap bayi saya,” ujarnya mengakhiri perbincangan.
Seperti diketahui, Juliana Ong pada 10 Juni 2010 lalu melaporkan dokter RS Omni, dr Ferdy ke Polda Metro Jaya. Dalam laporannya, Juliana menuduh bahwa pihak dokter RS Omni telah melakukan malpraktik terhadap 2 bayi kembarnya yang mengakibatkan anaknya mengalami kebutaan.
Namun, Kepolisian Daerah Metro Jaya mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidik) atas kasus dugaan malpraktik kerusakan mata Jared dan Jayden oleh dokter Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya penyidik Renakta telah menertibkan SP3 atas kasus tersebut. “Penerbitan itu sudah melalui gelar perkara yang dihadarikan pejabat-pejabat yang terkait termasuk saksi ahli dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia),” ujarnya.
Dia menjelaskan berdasarkan keterangan saksi ahli disimpulkan tidak ada dugaan malpraktik yang dilakukan oleh dokter RS Omni Internasional Alam Sutera. “Buktinya tidak cukup, karena pelayanan yang diberikan dokter dan pihak rumah sakit sudah sesuai dengan standar dan prosedur yang berlaku,” kata Boy Rafli.
Namun, Juliana Ong yang diwakili suaminya Kiki Kurniadi melaporkan penyidik Renakta ke Propam Polda Metro Jaya pada 26 Januari 2010. Laporan itu tertuang dalam laporan resmi bernomor R/103/I/2010/Divpropam.

sumber : vivanews

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: